NEGERI PRIHATIN

MENCARI SURGA DI NEGERI PRIHATIN
Oleh: DWICIPTA

Inilah barangkali tragedi terbesar manusia: sejak awal kemunculannya di dunia ini beribu-ribu tahun lalu, ia yakin akan keberadaan surga. Terlahir tak membawa apa-apa, juga tak ingat apa-apa, manusia bukan hanya terobsesi pada pencarian dirinya sebelum terlempar di dunia ini. Ia diliputi pula obsesi tentang kehidupan baru pasca kemusnahan dirinya. Alam awang-uwung sebelum kelahiran boleh saja tak tergapai oleh akal, kenangan, dan imajinasi. Namun selagi hayat dikandung badan, tidak ada salahnya ia berandai-andai tentang ‘hari esok’ itu, negeri dan kehidupan penuh teka-teki yang keindahannya konon melebihi fantasi yang pernah dicetuskan manusia. Ilusi kehilangan surga diikuti dengan waham akan keberadaan surga di hari esok.
Lalu muncullah kisah Adam dan Hawa yang begitu fenomenal itu. Mengambil titik permulaan di surga, bergelimang kesenangan tiada habisnya, sepasang manusia tersebut menjadi lupa diri sehingga mengundang murka Tuhan. Dari surga yang sedemikian indah, mereka harus menerima kenyataan terperosot ke bumi yang kerapkali ganas dan tak terpahami. Sejak turunnya Adam dan Hawa ke dunia itulah kisah surga tak habis-habisnya direproduksi oleh manusia, dengan berbagai macam varian, tak bergeming atau hilang pesonanya oleh kemajuan peradaban sekali pun.
Jaman boleh berganti, manusia bisa saja berpindah tempat dari satu planet ke planet lain, namun fantasi tentang surga tak lekang dimakan zaman. Bahkan saking tidak sabarnya dalam menemukan surga yang difantasikannya, manusia bertindak lebih konyol: ia menciptakan taman Edennya sendiri di dunia ini! Begitulah, kecemasan pada maut, keganasan dan keliaran alam, kepongahan manusia yang merasa bisa menundukkan alam, terpedayanya mereka pada kuasa benda-benda, teror derita akibat ‘tak dapat tempat’ dalam kehidupan ini, semuanya berujung pada imajinasinya tentang surga.
Dalam pusaran fantasi (ataukah waham?) semacam ini, apa yang dilakukan oleh seorang penyair? Satu bait puisi berikut mungkin bisa memberikan indikasi dimana posisi sang penyair:

Surga ada dimana?
dari mimbar ke mimbar
dari desa ke desa
dari kota ke kota
dari pulau ke pulau
dari negeri ke negeri
tak kutemukan jejaknya
        (Surga ada dimana)

Ia yang dihidupi oleh mitos tentang surga, namun tak menelan begitu saja mitos itu, melakukan perjalanan dari mimbar ke mimbar, menjelajah desa maupun kota, berkelana ke negeri-negeri jauh untuk menemukan jejak-jejaknya. Ia selidik stasiun, terminal, kedung, rerimba poster, gubug-gubug reot, lengkung jembatan, hingga tepian bengawan. Dengan sedih ia harus menerima kenyataan bahwa sepanjang perjalanan, bukan jejak surgalah yang ia temukan. Di gerbong kereta api ia mendapati raut wajah memelas.

Deru roda kereta terus menggema
Bau anyir liur mengisi udara
Ratusan jiwa malang melintang berdesakan demi impian
            (Wajah Gerbong Kereta Ekonomi)

Di sebuah tempat yang diduga sebagai lokasi penyiksaan dan pembunuhan politik ia mendengar jerit roh-roh penasaran, wajah-wajah mengerikan karena menahan sakit, dan kebiadaban manusia yang melakukan penghilangan nyawa manusia atas nama kebenaran politik. Di gubug reot ia dapati lelaki tua yang menyesal telah kehilangan masa mudanya yang ranum. Hingga di negeri prihatin ia menyaksikan pemimpin yang tak tahu malu mengumbar syahwat kuasanya di depan rakyatnya yang kesusahan.
Sang penyair, sepanjang kelananya, tak menyangkal bahwa di tempat-tempat tertentu ia merasakan suasana hening penuh pesona. Apakah itu jejak surga? Mungkin saja. Namun kalau surga adalah gambaran sempurna tentang tempat berdiam manusia sesudah kehidupan di bumi selesai, mungkinkah ia bersanding dengan hal-hal menyedihkan seperti di atas? Keindahan yang terpancar dari tepian bengawan penuh sejarah mengagumkan, yang meletup dari gerak cekatan jari pembatik, yang dipicu oleh suasana gaib jembatan lengkung atau suasana puitik sebuah terminal di tengah malam serta kesakralan tempat seperti Bali adalah ikhtiar menyedihkan manusia untuk menghadirkan surga di bumi yang lengas ini.
Maka kini sang penyair itu sadar, bahwa gagasan tentang surga seperti wajah Janus: ia memiliki wajah baik dan buruknya sendiri. Bila kita melihat wajah baiknya, maka gagasan tentang surga adalah jangkar yang ditambatkan di dasar benak manusia yang paling dalam agar ia bisa bertahan dalam kehidupan yang liar dan tanpa kendali. Lewat ‘fiksi’ tentang surga inilah, manusia bisa bertahan menghadapi kesusahan yang tengah menimpanya, punya nyali untuk melawan penindasan, dan menciptakan berbagai macam perubahan. Namun apabila ia memperlihatkan wajah buruknya, maka gagasan tentang surga tak lebih dari alat yang dipakai oleh orang-orang kalah dan mereka yang ingin mengalahkan untuk meninabobokan orang dari kesusahan dan derita yang dialaminya. Ia seperti candu: makin dikonsumsi semakin nikmat, semakin menciptakan ketergantungan, sebelum maut menyeruak tiba-tiba di hadapannya.
Kini, dalam suatu istirahnya, sang penyair melihat kembali perjalanan yang telah ditempuhnya. Ia tak akan melakukan pembelaan atau permusuhan terhadap pikiran tentang surga di benak manusia. Ia hanya akan ‘mencatat’ bagaimana kehidupan yang ada di sekitarnya memberikan klarifikasi atau tanggapan atas mitos yang telah ditanamkan dalam dirinya sejak beribu-ribu tahun lalu itu. Ia sadar bahwa di negerinya banyak orang mencari surga. Catatan atas usaha gemilang atau penuh kegagalan yang dilakukan oleh orang-orang di negerinya akan lebih banyak dari yang kini telah ditulisnya.
Dalam salah satu masa pengembaraan, aku berkesempatan bertemu dengannya. Kami duduk di warung kopi selama berjam-jam, kemudian bermalam-malam, mengisahkan pengalaman kami masing-masing. Ia menyodorkan catatannya tentang kegilaan manusia mencari surga. Aku membaca catatannya yang tak rapih itu, membicarakan temuan-temuannya, dan mengomentari catatan itu di sana-sini. Kami tetap di tempat kami menyisir satu demi satu bahan percakapan yang liat. Sampai tiba waktunya bagi kami untuk melanjutkan perjalanannya masing-masing, ia berjanji akan membicarakan perihal surga di benak manusia setiap kali kami bertemu.
      



















 Balimaneh – balimaneh Bali
                 
                   balimaneh-balimaneh Bali
                   balimaneh-balimaneh Bali
                   menatap sebuah kehidupan
                   yang tersirat naluri
                   aneka ragam keindahan, kenyataan
                  
                   balimaneh-balimaneh Bali
                   balimaneh-balimaneh Bali
                   tiap hari
                   mengucap mantra dan mantra
                   letakkan sesaji
                   demi keselamatan sanak sedulur
                   
                                        balimaneh-balimaneh Bali
                                        balimaneh-balimaneh Bali
                                        sesaji telihat di mana-mana
                                        tak terlindas era modern
                                        upacara adat berjalan seperti kereta melaju
                                        ikuti kehidupan terdahulu







   
                                                                             Kediri-Tabanan  2004

balimaneh  :  kembali lagi     
sedulur       :   saudara
                      
                            Corak                 

             Menganga
             Amarah
             Terbina dendam
             Tertindih nafsu
             Saling berebut
             Tunggang menunggang
             Terus berkorban
             Demi satu impian
             Tak perduli
             Darah
             Kasta
             Tangis bayi melengking
             Tak tahu apa yang terjadi
             Hanya sebuah naluri
             Lapar atau tergigit kutu
             Ah…?

             Mengapa manusia hanya mengira
             Memburu?
             Tak tahu resiko yang akan terjadi
             Wajah
             Wajah murung
             Yang tahu isyarat
             Wajah
             Wajah beringas
             Pentingkan pribadi bejat
             Lelah
             Kata yang lelah






                        Hanya bibir tajam
                        Rupiah yang kuat
                        Mampu tonjolkan corak
                        Walau tak pas dalam bingkai
                        Paku tertancap
                        Hanya diam tak bersuara
                        Takut tak berguna
                        Sedih tak bisa teteskan air mata
                        Mengerti dan mengerti
                        Itu benda mati



                                                                              






                                                                           









                                                                             Pekalongan mei 2007


Surga ada dimana

cari tanya cari tanya
Surga ada dimana?
sudut-sudut kota
dari gedung mewah sampai rumah kumuh
yang ada hanya bayang-bayang saja

Surga ada di mana?
dari  pinggir-pinggir desa di pedalaman
di tiap jantung hutan belantara
tumbuh yang berduri
tumbuh yang berwarna
bermil dari gubug ke gubug
yang ada hanya bayang-bayang saja

Surga ada dimana?
dari bait-bait puisi
ditatah huruf-huruf
terbentuk kata Surga
hanya kata Surga yang mengerti Surga

Surga ada dimana?
dari mimbar ke mimbar
dari desa ke desa
dari kota ke kota
dari pulau ke pulau
dari negeri ke negeri
tak kutemukan jejaknya





Surga ada dimana?
kehidupan atau kematian
kematian atau kehidupan
Surga atau Surga

Surga ada dimana?







                                                                          
















                                                                           Pekalongan oktober 2007                                                                                                                                                                                                           
 

                                    
    Batik

coret titik popok lorot
paras keriput tak lelah bergerak
jari kurus terus berimaji
tutuk tak lelah mengamu
coret titik popok lorot
lembut gerakmu
menusuk tubuh mulus
tanpa ada yang tersisa
coret titik popok lorot
tubuh terslampir di cagak bambu
tersentuh tangan mesra bagi pemuja
hanya tersenyum lembut
coret titik popok lorot
mengapa sekarang nasib tak karuan
aku butuh tangan yang bermoral
bukan janji yang bohong
coret titik popok lorot
aku ingin dalam pelukmu
aku ingin tangan-tangan gila tak merayuku
aku ingin memuaskan penikmatku
aku ingin… jangan tinggal sejarah
coret titik popok lorot
penjuru dunia
kagum
keunikan dan keindahan wajah
takkan terlupa
walau di telan zaman

                                                                          Pekalongan januari 2008
popok : menempelkan jumlah banyak gondo di kain     tutuk      :  mulut
lorot   :  menghilangkan gondo di kain                          slampir  :  meletakan kain (untuk di batik)
mengamu : meniup                                                         cagak     :  tiang                                                                 

     Brog plengkong

Riuh limpah suara tak henti
sriti leluasa terbang bebas
menyambut mentari tiba
tersengat tulangku yang rapuh
dalam tidur panjangku
kicau-kicau prenjak terdengar berisik
membentang dalam benteng batu
seperti semangat para pejuang
tak lelah dalam ingatan
sebab telah terukir di halaman sejarah
                     Riuh limpah suara tak henti
                     tangan halus mengusik pagi
                     embun branjak pergi
                     petani memetik hari
                     sepoi angin berhembus
                     daunpun ikut bergoyang  
                     jatuh yang tua muncul yang muda
                                    Riuh limpah suara tak henti
                                    wahai penyemangat hidup   
                                    semangat para bocah
                                    tersenyumlah sedikit
                                    tubuhku membujur kaku
                                    sisa umurku tinggal siang dan malam
                                    aku tak tau sampai kapan aku bertahan
       
  


                                                                            Surabayan januari 2008

brogplengkong  :  jembatan melengkung


                               Kedungpatangewu

Membetang luas pijakku
tersirat cerita dalam kenang
terlukis kisah rahasia
tak terlupa walau telah hilang
siul kutilang bernyanyi
meronta dalam kepunahan
tetes air menderas
berpasang remaja riuh melintas
pohon belukar tersebar tak rata
tinggal kenangan
gubug-gubug tua tak terlihat walau bekas
tradisi tinggal nama

gemuruh air menusuk telinga
terlinang harum mewangi bunga kamboja
sungai besar mengikat gerak
pesona indah terbesit kalbu
tangan-tangan perkasa
menancap paku raih kehidupan
dalam langkah ujung harapan




   





                                                                                                             Kletak januari 2008

Kedungpatangewu  :  nama desa     









Puisi buat lubang buaya

Begitu memukau
Tercengang mengingat nama
Terukir sejarah di batu nisan
Lubang buaya
Ternyata sebuah klurahan
Yang ada di jakarta















                                                                                    Lubang buaya 2008



                                        
                         Bengawan solo

Diam

Hening

Mempesona

Kenangan masalalu
dengan rupa-rupa warna ataupun cerita
menjelma dalam perjalanan waktu
dari sudut-sudut ruang terhampar lembaran bermakna
terurai memamerkan pesona bagi sang pemuja
keringat menetes melukis harapan
imaji  terus gelisah
impian yang didamba pencipta
demi memperjuangkan generasi penerus

Diam hening mempesona saat kelelawar siap mencari mangsa hanya terdengar lirih tubuhmu melenggak lenggok cerita wajah yang tersenyum panjang diam seribu makna dan rahasia riuh warnai sunyi dalam  bayang semata gemuruh dan membual membuat dan berguna bagi mereka walau tak terasa sungguh keagunganNYA tak akan sirna hingga pejamkan mata kecuali diriNYA  menghendaki.






                                                                                                    Solo 2008





Tertonadi malam itu

 rembulan tinggal seiris dan bintang bertebaran
 seakan memerankan crita pewayangan
 jauh di sela dedaunan sana memancar kedip lampu
 tertata rapih walau tak terencana
 sepasang kaki tak lelah mengayuh pedal demi buah hati  
 yang sedang bermimpi memetik apel
 kupu-kupu malam melambaikan sayap dan siap menerkam mangsa
 secangkir kopi menghangatkan suasana beku
 gugah semangat jiwa peradaban
 layar tergulung dan kucing siap melangkah pulang.









                                                                  






                                                                                                   Solo  2008
layar  :  tenda



              
                      Gubug muda penghuni tua


Tersisih di pinggir wangan
memelas raut wajah
di bawah lampu lima watt
dalam ruang cukup berteduh panas dan hujan
mata memandang jauh semasa muda
asap rokok temani dalam kegelisahan
rindu akan bahagia
namun jauh dari cita
terbayang lampau gagah dan perkasa
semalam seribu bahagia
sewaktu seribu langkah
sekarang sisa kenang
terhanyut rasa bersalah namun tak ada guna
penyesalan ingin terucap namun siapa yang mendengar
hanya berharap menunggu sang penjemput










                                                              Pekalongan januari 2008

wangan    :   sungai kecil
memelas   :   kasihan





                                              Pohon poster



                     Berjalan di atas aspal
                     penjual kacang berbungkus foto anak negeri
                     tiang-tiang baliho menghalang rindang alami
                     daun melambai dengan pesan menjanjikan
                     pagar jamban jadi iklan
                     ragam warna sejarah baru bagi janin yang baru lahir















                                                                          Pekalongan maret 4 2009


jamban    :     toilet/wc yang berada di sungai


                                           

      Murahnya martabat anak negeri

                                              janji yang tergadai dengan sembako
                                              tukang sate jadi buruan
                                              materialisme jadi pokok idola
                                              riang wajah kerumun
                                              menyambut sang raja membagi aura
                                              saling unggul ajang promosi
                                              lupa sejarah lahir dalam pelukan ibu pertiwi

















                                                                        Pekalongan maret 11 2009






                                                       Bawah jalan kereta

 pukul tiga kosong-kosong
 sayup angin menderu
 seekor wiroug melintas
 tepat di atas aspal bawah jalan kereta
 manusia gerobak lagi asyik bermimpi
 walau sedikit bising
 beranakpinak hinga tak ada batas keturunan
 terdengar kicau burung meronta membangunkan mentari
 perempuan binal asik merayu tukang nasigoreng

 di bawah jalan kereta
 menguak kisah para manusia
 empat lelaki timor berjalan gontai
 sambil mulutnya bersua “baru setengah kita di Jakarta”











                                                                       Menteng september 25 2010


mplarat  :  miskin
wiroug   :  tikus besar


                        Kutitip kata di stasiun gambir

sayap melambai terbang hinggap di tiang listrik ocehanpun nyaris merdu namun tak kuasa tertelan deru ombak jakarta langkah kian rame bersemangat cari kepastian menunggu waktu di pojok gambir atas trotoar  tukang ojek telah menyelesaikan tugasnya, membaca koran berita markus yang rampung dalam mimpi spontan menyapa mengucap salam pada perempuan yang masih bau anyir jadi konsumen kali ini
segelas kopi temani satpam mengoreksi wajahwajah asing  tueeeet... klakson menggema mengabarkan bahwa kereta telah tiba di atas punggung kereta saudaraku asik saja menikmati perjalanan menuju ruang harapan dengan tak ingat lagi nyawa jadi jaminan
tukang asong jinjing tersenyum dua gelas plastik susu laku penunggu angkot halte gayuh sepeda perempuan setengah baya berkerudung asik boncengkan anak usia subur blajar mentari muncul dari balik Ganas merias wajah Monas yang konon menjadi titik nol dalam sejarah yang pantas
laju busway tanpa rintang menggugah lamunan...kapan aku bisa turun kereta di stasiun gambir









                                                                                    Jakarta mei 21 2010

ocehan   :  kicau                         Ganas  : galeri nasional
anyir      :  sedap


                      Wajah gerbong ekonomi
 
ketika roda kereta mulai berputar
rintik hujan mengguyur gerbong
waktu menunjuk pukul kosong-kosong

terlihat bocah memelas raut wajah
duduk di samping perempuan tua
pandang masa jauh bahagia
tak terasa tiga ekor nyamuk lahap menghisap darah
tepat di keriput pipi lelaki bersandar sebelah pintu toilet

deru roda kereta terdengar menggema
bau anyir liur manusia mengisi udara
ratusan jiwa malang melintang berdesak  demi impian

roda kereta terus melaju
yakin akan sampai tujuan







                                                               Pkl-Jkt september 24/25 2010








Cerita sebelum tidur

Kutatap langit itu
menyelinap kalbu yang membisu
obrolan lampu menghidupkan suasana sepi
deru kota jakarta menghias warna
pengganti peradapan sunyi

sorot tatap lampu
merias wajah monas yang diam
ketapketip pesawat
berjalan lewati luas cakrawala
meluncur bak meteor

gedung tinggi jadi saksi yang pasti
angin semilir membawa bau sedap
mengundang hidung si cakar kecil
rembulan yang tertutup
menjadi pantulan redup mata









                                                                    Monas september 27 2010



 Lidah merapi sudah memerah

                  Wedus
                  Kebo
                  Sapi
    
                  Umah
                  Menungso
                  Beyi
   
                  Uwit
                  Watu
                  Krikil

                  Luluh tersapu jilatanmu yang penuh kasih itu
                  Hingga membekas syahdu
                  Tersungkur sujud meratap
                  Terdengar menggema hingga penjuru telinga

                  Gemetar perih rasa
                  Menggores kulit hingga sobek daging dan matang
                  Bau sedap bangkai mengundang iba
                  Mata dunia
                 
                  Takterasa waktu terlewat
                  Aku hanya diam dan membisu



                                                                                 Jogja oktober 19 2010

wedus   :  kambing           umah           :  rumah             uwit    :  pohon      
kebo      : kerbau              menungso    :  manusia          watu   :  batu
sapi       : sapi                  beyi              : bayi                  krikil  : batu keci










         Negeri prihatin

Cengar-cengir tunduk malu
Lemas semarak pejuang
Takut tertindih kutu
Hilang semangat percaya

Cengar-cengir tunduk malu
Pemimpin sudah lucu
Rakyat membisu










                                                                  Pekalongan  januari 2011

Cengar-cengir  :  tersenyum malu


             Sungaiku tak seperti dulu

Kata pakde
Dulu air sungai itu jernih
sejernih kaca yang ada di gemerlap ibu kota
menjadi catatan untuk bersihkan tubuh tiap pagi dan sore
berbondong para perawan sekedar membasuh jerih  lusuh dan segarkan kembali
menjadi bunga semerbab bau mewangi hidup di tengah istana
semilir angin membawa liuk tubuh bening berjalan telusuri titik rendah
masuk kesetiap urat yang menjadi pesona alam
berbagai macam mahluk kecil besar tunduk rindu akan melepas dahaga
setelah berjalan lelah demi puaskan hasrat
batu dan kerikil menambah melodi mengisi barak suara gaduh di setiap inci waktu
daun berguguran menimang sendu birahi dalam keremajaan memuncak suatu massa
akar menyelip hingga kedalam jantung untuk  menyegarkan jiwa yang sendiri
berdiri di atas luka kehidupan warnai kesejahteraan semesta
dalam keheningan kau berbisik keras tak ragu hingga terdengar di setiap penjuru
di mana telinga itu masih berfungsi
melimpahnya air yang kluar dari hulu membuat  damai dan tentram serta bersahaja
untuk nikmati kehidupan yang masih panjang

Kata aku
Hitam kelam pekat lumpur yang menempel pada dinding batu, menyedihkan karna warisan kolonialisme tak mampu bayar babu
kejamnya para diktaktor menumpas merampas rimbun kota sampai ranting pun tak bersisa hanya untuk puaskan pribadi semata


pribumi tidak lagi peduli tentang semua itu karena memenuhi jeritan banyi dan anaknya  yang baru masuk sekolah rasanya menjerat leher
penguasa tertawa
di atas jernihnya sungai ratusan dollar masuk dalam kantongnya
tanah luas subur ribuan yuro masuk dalam perutnya
indah pohon rindang, rempah-rempah membentang tercampur gemerlap kota jutaan rupiah di bagi sanak saudara
untuk puaskan keinginan dan emosi
sampai tidak bisa lagi melihat samping rumahnya ada yang menangis meratap hingga memengak telinga hanya untuk sekedar makan
sungaiku tak seperti dulu
sekedar jadi tumpu sudah tidak mampu
sekarang hanya sisa dan harus di tangggung pewarisnya apapun itu warna dan rupa
















                                                                         Pekalongan april 24 2011
pakde    :  kakek   


Pinggir sungai pasar baru

Ratusan sriti lincah menari di atas permukaan air
Menikam ikan merak yang lengah
Air mengalir lambat membawa jutaan sisa manusia tidak bermatabat
Rimbun pohon bunga merah indah
Bergoyang oleh hembusan angin
Laju bajai besemangat tak perduli  kanan kiri dan hantam pukul maju terus dari perjuangan menafkahi anak istri yang seharian menunggu
Peluit keras berbunyi
Tukang parkir asik
“Terus terus maju maju setir kanan trus balas terus balas kiri terus terus terus stop”
Suara tukan parkir gembira
Lembaran goceng sudah tertata dalam saku sore itu
Ada yang pegang hp, ada yang ngobrol ,ada yang tersenyum ,ada yang  ngantuk, ada yang bersolek, ada yang berdiri
Warnna dan corak penunggu halte
Dari bal;ik lorong jembatan
Kelelawar muncul berduyun-duyun menggantikan sriti yang asik berdansa dengan ikan merak
“ternyata kelelawar di sini sudah doyan ikan rupanya, buah sekarang masuk dalam tabung pengkarbitan”
Satu persatu pergi tanpa pesan  datangpun tanpa di undang dan jumpa hari esok



                                                                             Pasar baru mei 23 2011












Negeri jamban

Kencing sembarangan
Berak sembarangan
Korupsi sembarangan sembunyi di balik hukum toilet
















                                                            Pekalongan  mei 2011
Jamban  : wc     





           Samping rel negeri ku

Lewati bising kereta rindu kampung halaman
dengan mengais kaleng, botol pastik, kardus dalam tong sampah
dan di pinggir-pinggir jalan terbuang sembarangan
sisa teknologi era modern 
menjadi tumpu hidup maju
nyala lampu lilin
tawa canda terlindas bunyi klakson kereta
berjuta harapan raih kehidupan yang lebih baik
berharap anak keturunan untuk mengganti dan menjunjung martabat
waktu  masih berjalan senyum prihatin terpancar pada wajah kluarga
semangat hidup tidak sekecil nyala api lilin
akibat jauh dari firasat
terlindas roda kereta
api lilin jatuh dan terbakar
atau itu hanya lamunanku?...bagi mereka semua adalah perjuangan













                                                                                     Senen mei 25 2011












Klithikan
   
Baru saja aku berjalan
melihat pasar tua beralas plastik
bertebaran lampu sentir di setiap lapak lesehan
duduk termangu keriput wajah menunggu pembeli
di pojok perempuan baya dengan bibir manyun
asik menikmati sebatang rokok kretek
memandang segumpal sisa harapan
yang tergilas waktu demi hamparan yang lapar
menjadi saksi tak pernah di mengerti
ketap ketip lampu sentir tersapu pelan sayu angin
menghangatkan sisa tumpukan besi tua dan sepatu bekas
dengan tawa takberbekas malam semakin larut
merasuk mimpi 
satu persatu langkah rindu mulai meninggalkan pagi








                                                   Yogya pasar klithik 16 10 2011





                                   
























                                                               
Tentang Catur Mulyadi adalah seorang lelaki sederhana yang lahir di Kelurahan Pekajangan, 11 Mei 1978 Pekalongan. Karya-karyanya  belum pernah dimuat media manapun, keculi dalam antologi puisi pendhapa 5  ( Temu Penyair Antar Kota 2008 ). Namun ia berharap tulisan-tulisannya dapat memberi makna dan bermanfaat bagi semua teman dan saudaranya , dan tempat  tinggalnya sekarang di Pekajangan Gang 23 No 45 Rt/Rw 16/06 Pekalongan , Jawa Tengah 51172. emai : ndeso_bae@yahoo.com, 085694412557



                                                    


  NEGERI          PRIHATIN
     







 Catur Mulyadi