Balimaneh – balimaneh Bali
balimaneh-balimaneh Bali
balimaneh-balimaneh Bali
menatap sebuah kehidupan
yang tersirat naluri
aneka ragam keindahan, kenyataan
balimaneh-balimaneh Bali
balimaneh-balimaneh Bali
tiap hari
mengucap mantra dan mantra
letakan sesaji
demi keselamatan sanak sedulur
balimaneh-balimaneh Bali
balimaneh-balimaneh Bali
sesaji telihat di mana-mana
takan terlindas era modern
upacara adat berjalan seperti kereta melaju
ikuti kehidupan terdahulu
Kediri-Tabanan 2004
balimaneh : kembali lagi
sedulur : saudara
Corak
Menganga
Amarah
Terbina dendam
Tertindih nafsu
Saling berebut
Tunggang menunggang
Terus berkorban
Demi satu impian
Tak perduli
Darah
Kasta
Tangis bayi melengking
Tak tahu apa yang terjadi
Hanya sebuah naluri
Lapar atau tergigit kutu
Ah…?
Mengapa manusia hanya mengira
Memburu?
Tak tahu resiko yang akan terjadi
Wajah
Wajah murung
Yang tahu isyarat
Wajah
Wajah beringas
Pentingkan pribadi bejat
Lelah
Kata yang lelah
Hanya bibir tajam
Rupiah yang kuat
Mampu tonjolkan corak
Walau tak pas dalam bingkai
Paku tertancap
Hanya diam tak bersuara
Takut tak berguna
Sedih tak bisa teteskan air mata
Mengerti dan mengerti
Itu benda mati
Pekalongan Mei 2007
Surga ada dimana
cari tanya cari tanya
Surga ada dimana?
sudut-sudut kota
dari gedung mewah sampai rumah kumuh
yang ada hanya bayang-bayang saja
yang terbesit dalam jiwa
Surga ada di mana?
tersirat nurani dalam kota pedalaman
yang tergambar hutan lebat
tumbuh yang berduri
tumbuh yang berwarna
bermil dari gubug ke gubug
hanya lamunan saja yang terlihat dalam otak
Surga ada dimana?
dari bait-bait bahasa
tertulis, tercecer huruf-huruf nyata
terbentuk kata Surga
hanya kata Surga yang mengerti Surga
Surga ada dimana?
dari mimbar ke mimbar
dari desa ke desa
dari kota ke kota
dari pulau ke pulau
dari negeri ke negeri
Surga ada dimana?
jerit tangis makhluk dan impiannya
akankah tercapai atau sebaliknya
kehidupan atau kematian
kematian atau kehidupan
Surga atau Surga
Surga ada dimana?
Pekalongan oktober 2007
gubug : rumah
Batik
coret titik popok lorot
paras keriput tak lelah bergerak
jari kurus terus berimaji
tutuk tak lelah mengamu
coret titik popok lorot
lembut gerakmu
menusuk tubuh yang mulus
tanpa ada yang tersisa
coret titik popok lorot
tubuh terslampir dalam cagak bambu
tersentuh tangan mesra bagi pemuja
hanya tersenyum lembut
coret titik popok lorot
mengapa sekarang nasib tak karuan
aku butuh tangan yang bermoral
bukan janji yang bohong
coret titik popok lorot
aku ingin dalam pelukmu
aku ingin tangan-tangan gila tak merayuku
aku ingin memuaskan penikmatku
aku ingin… jangan tinggal sejarah
coret titik popok lorot
penjuru dunia
kagum
keunikan dan keindahan wajah
takkan terlupa
walau di telan zaman
Pekalongan januari 2008
popok : menempelkan jumlah banyak gondo di kain tutuk : mulut
lorot : menghilangkan gondo di kain slampir : meletakan kain (untuk di batik)
cagak : tiang
Brog plengkong
Riuh limpah suara tak henti
kisah lama para pengenang
sriti leluasa terbang bebas
menyambut mentari tiba
tersengat tulangku yang rapuh
dalam tidur panjangku
kicau-kicau terdengar berbisik kata dalam cita
membentang dalam benteng batu
semangat para pejuang
tak lelah dalam ingatan
terukir sejarah dalam angan
Riuh limpah suara tak henti
tangan halus mengusik pagi
baju kering suatu harapan
embun branjak pergi
petani memetik hari
sepoi angin berhembus
daunpun ikut bergoyang
jatuh yang tua muncul yang muda
Riuh limpah suara tak henti
wahai penyemangat hidup
semangat para bocah
sedikit tersenyum cita dan harapan suatu masa
tubuhku membujur kaku
harapan para penikmat
sisa umurku siang dan malam
aku tak tau sampai kapan aku bertahan
Surabayan januari 2008
brogplengkong : jembatan melengkung
Kedungpatangewu
Membetang luas pijakku
tersirat cerita dalam kenang
terlukis kisah rahasia
tak terlupa walau telah hilang
siul kutilang bernyanyi
meronta dalam kepunahan
tetes air menderas
terlintas remaja riuh kehidupan
pohon belukar tersebar tak rata
tinggal kenangan
gubug-gubug tua tak terlihat walau bekas
hanya tradisi tinggal nama
gemuruh air menusuk telinga
terlinang harum mewangi bunga kamboja
sungai besar mengikat gerak
pesona indah terbesit kalbu
tanagan-tangan perkasa
menancap paku raih kehidupan
dalam langkah ujung harapan
Kletak januari 2008
Kedungpatangewu : nama desa
Puisi buat lubang buaya
Begitu memukau
Tercengang mengingat nama
Terukir sejarah di batu nisan
Lubang buaya
Ternyata sebuah klurahan
Yang ada di jakarta
Lubang buaya 2008
Bengawan solo
Diam
Hening
Mempesona
Ter lukis kenangan masa lalu dengan rupa-rupa warna corak ataupun cerita
menjelma dalam perjalanan waktu
dari sudut-sudut ruang terhampar lembaran bermakna
terurai memamerkan pesona bagi sang pemuja
keringat menetes melukis harapan
imaji terus gelisah
impian yang didamba pencipta
demi memperjuangkan generasi penerus
Diam hening mempesona saat kelelawar siap mencari mangsa hanya terdengar lirih tubuhmu melenggak lenggok cerita wajah yang tersenyum panjang diam seribu makna dan rahasia riuh warnai sunyi dalam bayang semata gemuruh dan membual membuat dan berguna bagi mereka walau tak terasa sungguh keagunganNYA tak akan sirna hingga pejamkan mata kecuali diriNYA menghendaki.
Solo 2008
Tertonadi malam itu
rembulan tinggal seiris dan bintang bersandiwara
seakan memerankan crita pewayangan
kedip terpancar jauh di sela daun
tertata rapih walau tak terencana
kaki perkasa tak lelah mengayuh pedal demi memperjuangkan buah hati
sedang bermipi kisah hidupnya
kupu melambaikan sayap dan siap menerkam mangsa
terpikat rayu dan cantiknya
secangkir kopi menghangatkan suwasana yang beku
gugah semangat jiwa peradaban
layar tergulung dan kucing siap melangkah pulang.
Solo 2008
layar : tenda
Gubug muda penghuni tua
Tersisih di pinggir wangan
memelas raut wajah
di bawah lampu lima watt
dalam ruang cukup berteduh panas dan hujan
mata memandang jauh semasa muda
asap rokok temani dalam kegelisahan
rindu akan bahagia
namun jauh dari cita
terbayang lampau gagah dan perkasa
semalam seribu bahagia
sewaktu seribu langkah
sekarang sisa kenang
terhanyut rasa bersalah namun tak ada guna
penyesalan ingin terucap namun siapa yang mendengar
hanya berharap menunggu sang penjemput
Pekalongan jan 2008
wangan : sungai kecil
memelas : kasihan
Pohon poster
Berjalan di atas aspal
penjual kacang berbungkus foto anak negeri
tiang-tiang baliho menghalang rindang alami
daun melambai dengan pesan menjanjikan
pagar jamban jadi iklan
ragam warna sejarah baru bagi janin yang baru lahir
Pekalongan, 4 Maret 2009
jamban : toilet/wc yang berada di sungai
Murahnya martabat anak negeri
janji yang tergadai dengan sembako
tukang sate jadi buruan
matrealisme jadi pokok idola
riang wajah kerumun
menyambut sang raja membagi aura
saling unggul ajang promosi
lupa sejarah lahir dalam pelukan ibu pertiwi
Pekalongan, 11 Maret 2009
Bawah jalan kereta
pukul tiga kosong-kosong
sayup angina menderu
seekor wiroug melintas
tepat di atas aspal bawah jalan kereta
manusia gerobak lagi asik bermimpi
walau sedikit bising
beranakpinak hinga tak ada batas keturunan
terdengar kicau burung meronta membangunkan mentari
perempuan binal asik merayu tukang nasigoreng
di bawah jalan kereta
menguak kisah para manusia
konglomerat dan kolongmplarat yang berjalan mencari kehidupan
empat lelaki timor berjalan gontai
sambil mulutnya bersua “baru setengah kita di Jakarta”
Menteng 25 september 2010
mplarat : miskin
wiroug : tikus besar
Kutitip kata di stasiun gambir
sayap melambai terbang hinggap di tiang listrik ocehanpun nyaris merdu namun tak kuasa tertelan deru ombak jakarta langkah kian rame bersemangat cari kepastian menunggu waktu di pojok gambir atas trotoar tukang ojek telah menyelesaikan tugasnya, memebaca koran berita markus yang rampung dalam mimpi spontan menyapa mengucap salam pada perempuan yang masih bau anyir jadi konsumen kali inisegelas kopi temani satpam mengoreksi wajahwajah asing tueeeet... klakson menggema mengabarkan bahwa kereta telah tiba di atas punggung kereta saudaraku asik saja menikmati perjalanan menuju ruang harapan dengan tak ingat lagi nyawa jadi jaminan
tukang asong jinjing tersenyum dua gelas plastik susu laku penunggu angkot halte gayuh sepeda perempuan setengah baya berkerudung asik boncengkan anak usia subur blajar mentari muncul dari balik Ganas merias wajah Monas yang konon menjadi titik nol dalam sejarah yang pantas
laju busway tanpa rintang menggugah lamunan...kapan aku bisa turun kereta di stasiun gambir
Jakarta 21 mei 2010
ocehan : kicau Ganas : galeri nasional
anyir : sedap
Wajah gerbong ekonomi
ketika roda kereta mulai berputar
rintik hujan mengguyur gerbong
dengkur keringat tukang asong melepas rasa
waktu menunjuk pukul kosongkosong
terlihat bocah memelas raut wajah
duduk di samping perempuan tua
pandang masa jauh bahagia
mengusap mata tergugah mimpi
tak terasa tiga ekor nyamuk lahap menghisap korban
tepat di keriput pipi lelaki bersandar sebelah pintu toilet
deru roda kereta terus terdengar menngema
bau anyir liur manusia mengisi pengap udara
ratusan jiwa malang melintang berdesak demi impian
roda kereta terus melaju
yakin akan sampai tujuan
Pek-jak24/25 sep 2010
Cerita sebelum tidur
Ku tatap langit itu
menyelinap kalbu yang membisu
obrolan lampu menghidupkan suwasana sepi
deru kota jakarta menghias warna
pengganti peradapan sunyi
sorot tatap lampu
merias wajah monas yang diam
ketapketip pesawat
berjalan lewati luas cakrawala
meluncur meteor
gedung tinggi jadi saksi yang pasti
angin semilir membawa bau sedap
mengundang hidung si cakar kecil
rembulan yang tertutup
menjadi pantulan redup mata
Monas 27 sep 2010
Lidah merapi sudah memerah
Wedus
Kebo
Sapi
Umah
Menungso
Beyi
Uwit
Watu
Krikil
Luluh tersapu jilatanmu yang penuh kasih itu
Hingga membekas syahdu
Tersungkur sujud meratap
Terdengar menggema hingga penjuru telinga
Gemetar perih rasa
Menggores kulit hingga sobek daging dan matang
Bau sedap bangkai mengundang iba
Mata dunia
Takterasa waktu terlewat
Aku hanya diam dan membisu
Jogja 19 oktober 2010
wedus : kambing umah : rumah uwit : pohon
kebo : kerbau menungso : manusia watu : batu
sapi : sapi beyi : bayi krikil : batu kecil
Tidak ada komentar:
Posting Komentar